G20 Menaker : Tingkatkan Produktivitas Lewat Tenaga Kerja Terampil.

159
SHARE
photo1
ckjfvqwugaalv0-
Beijing--Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri menekankan pentingnya pelatihan kerja untuk mencetak tenaga kerja terampil sehingga bisa meningkatkan produktivitas. Dalam mencapai produktivitas yang lebih tinggi, permintaan pasar kerja untuk tenaga kerja terampil mengalami peningkatan signifikan.
Dalam kaitan dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan telah melakukan beberapa kebijakan, seperti untuk menghilangkan kebutuhan pendidikan formal bagi calon peserta pelatihan, merangsang pemerintah daerah untuk meningkatkan akses ke pasar kerja bagi para pencari kerja serta pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK).
Demikian disampaikan Menaker Hanif dalam sidang enhance employability, lanjutan pertemuan G20: Labour Employment Ministerial Meeting pada hari ini, rabu (13/7), di FanghuaVilla, Diaoyutai State Guesthouse, Beijing.
“Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk berbagi pengalaman dengan Indonesia dan praktik yang baik dalam meningkatkan kemampuan kerja, kami telah menekankan pembangunan manusia dan keterampilan untuk kerja yang lebih baik,” kata Menaker Hanif.
Menurut Menaker Hanif, Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia dan perekonomian kita diperkirakan bisa menjadi ekonomi terbesar ketujuh di dunia pada 2030. “Untuk mendukung perekonomian, Indonesia akan membutuhkan 113 juta pekerja terampil. Jumlah ini bisa dengan mudah dipenuhi karena jumlah penduduk usia kerja pada tahun 2015 mencapai sekitar 122 juta,” terang Hanif.
Namun, sebagian besar pekerja belum memperoleh tingkat Keterampilan yang diinginkan oleh dunia industri. “Situasi ini harus berubah, ada Urgensi dan kebutuhan untuk merancang kebijakan yang komprehensif dalam meningkatkan kualitas kerja dari penduduk usia kerja melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan,” tegas Menaker Hanif.
Dalam mencoba untuk mencapai produktivitas yang lebih besar, telah terjadi peningkatan yang stabil dalam permintaan untuk pekerja terampil dan terjadi penurunan permintaan untuk pekerja berketerampilan rendah.
“Mereka dengan tingkat pendidikan yang rendah lebih mungkin untuk menjadi pengangguran sementara mereka dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi lebih mungkin untuk dipekerjakan,” jelas Hanif
Indonesia saat ini sedang menjalani masa transisi menuju ekonomi pengetahuan dan peningkatan daya saing, pertumbuhan dan kinerja kerja. Kesenjangan keterampilan terlihat signifikan dalam hal ini, dan pemerintah telah melakukan investasi dalam pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan nasional untuk menutup kesenjangan ini. Pemerintah juga tengah berupaya mengubah sistem teknis dan orientasi Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan (Technical and Vocational Education and Training-TVET) Indonesia kepada kebutuhan dunia industri, lebih kepada demand-driven dan program praktek yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan daan kualitas kerja.
Kesempatan Kerja
Pertemuan G20 tingkat Menteri Tenaga Kerja di Beijing, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), hari pertama telah rampung dilaksanakan pada Selasa, 12 Juli 2016 kemarin. Pertemuan itu dihadiri oleh organisasi Internasional antara lain ILO, OECD, IMF dan World Bank. Turut pula stakeholders dibawah G20 seperti B20, L20, C20, T20, W20, dan Y20.
Dalam pertemuan tersebut difokuskan pada pandangan dari para Menteri dan mitra lainnya terhadap draft deklarasi yang telah dipersiapkan Employment Working Group di empat kali pertemuan (Tiongkok, Turki, Jenewa Dan Beijing).
Isu yang dibahas di hari pertama menyangkut isu peningkatan kesempatan kerja. Berbagai pandangan mengedepankan bahwa ditengah situasi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan saat ini, disadari akan sangat sulit untuk bisa meningkatkan kesempatan Kerja.
Oleh karena itu diperlukan strategi bersama dalam meningkatkan kesempatan Kerja dan pengurangan pengangguran, yakni, melalui program peningkatan pemagangan dan kewirausahaan.
Di satu sisi, job creation melalui kewirausahaan serta penguatan usaha kecil dan menengah merupakan cara untuk bisa membuka kesempatan kerja yang pada gilirannya kan mempercepat pertumbuhan ekonomi serta pengurangan pengangguran. Pada sisi lain, pemagangan juga merupakan cara peningkatan ketrampilan yang cukup cepat dan aplikatif dalam mengenal dunia kerja.
Pada kesempatan itu, ILO juga menyampaikan pandangannya terhadap negara-negara G20 yang dianggap positif dalam menanggulangi pengangguran. Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang dapat mengurangi pengangguran ditengah kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan saat ini.
Data resmi dari BPS menyebutkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2016 menurun sebesar 0.31% dibanding TPT pada Februari 2015.
Direktur Jenderal ILO Guy Ryder menekankan bahwa strategi pengurangan pengangguran yang dilaksanakan di tiga negara tersebut, termasuk Indonesia, dianggap tepat.
Sebab, Indonesia menekankan konsep job creation melalui peningkatan kewirausahaan dan penerapan pemagangan di tempat kerja secara masif.
Pertemuan G20 LEMM dibuka hari Senin kemarin waktu setempat oleh Yin Weimin, Menteri Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan Sosial Republik Rakyat Tiongkok (PRT). Dalam pertemuan tersebut para Menteri Tenaga Kerja berdiskusi dengan para mitra sosial dari kelompok Serikat Pekerja, Pengusaha, Lembaga Sosial Masyarakat, dan kelompok Pekerja Muda dari negara-negara anggota G20.
Negara-negara G-20 yakni Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, Inggris Raya, RRC, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea